1.961 ORANG DIDUGA KERACUNAN MBG: PROGRAM BERGIZI JANGAN BERUBAH MENJADI ANCAMAN KESEHATAN

 

Jakarta, Sinarpagijaya.com  — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menghadapi sorotan tajam. Data yang ditampilkan BBC News Indonesia mencatat 1.961 orang diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG pada 1–3 September 2026.

Angka itu bukan perkara kecil. Kasus yang tercatat tersebar di sejumlah daerah, dengan jumlah terbesar berada di Rembang, Jawa Tengah, sebanyak 777 orang, disusul Sidoarjo, Jawa Timur, 740 orang, Agam, Sumatera Barat, 276 orang, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, 152 orang, dan Bener Meriah, Aceh, 16 orang. Poster tersebut mencantumkan sumber sebagai riset BBC dengan data per 4 September pukul 11.00.

Program MBG sejatinya dibangun untuk memperbaiki kualitas gizi masyarakat, terutama anak-anak. Karena itu, ketika muncul dugaan keracunan dalam jumlah besar, pemerintah tidak boleh melihatnya sebagai persoalan biasa atau sekadar insiden teknis di lapangan.Makanan bergizi tidak boleh hanya memenuhi standar kandungan gizi, tetapi juga wajib memenuhi standar keamanan pangan.

Pemerintah harus berani membuka seluruh hasil investigasi secara transparan. Dari mana bahan makanan berasal? Bagaimana proses pengolahannya? Bagaimana standar kebersihan dapur? Berapa lama makanan disimpan? Bagaimana distribusinya? Dan siapa yang bertanggung jawab ketika standar keamanan tidak terpenuhi?

Jangan sampai ambisi mengejar cakupan jutaan penerima MBG justru membuat aspek pengawasan dan keselamatan tertinggal.Negara sedang berhadapan dengan meja makan rakyat. Di atas meja itu bukan sekadar makanan, tetapi menyangkut keselamatan manusia dan kepercayaan publik.

Jika benar terjadi kelalaian, maka evaluasi tidak boleh berhenti pada teguran administratif. Harus ada perbaikan sistemik, pengawasan independen, standar keamanan yang ketat, serta pertanggungjawaban yang jelas.

MBG adalah program strategis negara. Karena itu, keberhasilannya jangan diukur hanya dari berapa juta porsi makanan yang berhasil dibagikan, tetapi juga dari seberapa aman makanan tersebut dikonsumsi oleh rakyat.Satu kasus keracunan harus menjadi peringatan. Ribuan dugaan korban harus menjadi alarm nasional.

(Bahrudin  E -I  Sharnaaz) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Emak-Emak Berdaster “Grudug” Kantor Kecamatan Arahan, Tuntut Dugaan Penyalahgunaan AJB dan Aset Desa Diusut Tuntas

Mapag Sri Arahan Lor 2026, Wujud Syukur Panen dan Pelestarian Budaya Warisan Leluhur

Pelunasan Tanah Belum Tuntas, Kuasa Hukum Minta 30 SHM Dikembalikan: Beri Waktu Satu Minggu Sebelum Tempuh Langkah Hukum